Wartakinian.com, JAKARTA — Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, mengajak umat Islam untuk tidak terjebak dalam narasi konflik Sunni-Syiah. Menurutnya, persatuan umat menjadi kebutuhan penting di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi dalam forum Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Islam Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026). Diskusi dipandu Ketua Umum SAJID, Sajid Bachtiar Nasir, dan dihadiri para jurnalis dari berbagai media cetak maupun elektronik.
Dalam paparannya, Boroujerdi menyebut narasi pertentangan Sunni dan Syiah sebagai upaya yang, menurutnya, dimanfaatkan untuk memecah belah umat Islam.
"Ini bukan masalah Sunni atau Syiah. Tidak ada yang namanya perang Sunni dan Syiah. Itu adalah rekayasa rezim Zionis Israel untuk membuat perpecahan di antara umat Islam," ujar Boroujerdi.
Ia menjelaskan bahwa di dalam Islam terdapat banyak mazhab fikih, baik di kalangan Sunni maupun Syiah, seperti Syafi'i, Maliki, Hanafi, Hambali, Zaidi, dan Ismaili. Menurut dia, perbedaan mazhab merupakan ranah keilmuan yang seharusnya menjadi ruang dialog para ulama, bukan dijadikan alat untuk kepentingan politik.
Boroujerdi mengatakan Iran juga memiliki populasi Muslim Sunni dalam jumlah besar. Karena itu, menurutnya, serangan yang dilakukan Israel terhadap Iran tidak hanya menimpa warga dari satu mazhab tertentu.
"Jadi, ketika Israel menyerang Iran, apakah mereka hanya menyerang orang Syiah? Banyak masyarakat Sunni yang telah menjadi martir, yang telah terbunuh. Ketika rudal datang, rudal itu tidak bertanya, 'Apakah kamu Sunni atau Syiah?' Rudal itu membunuh semuanya. Mereka semua adalah musuh bagi umat Islam," katanya, yang disambut tawa hadirin saat menyampaikan analogi mengenai rudal yang tidak membedakan latar belakang mazhab korbannya.
Ia menegaskan bahwa seluruh umat Islam memiliki fondasi akidah yang sama, yakni menyembah Allah SWT, menghadap kiblat yang sama, mengikuti Rasulullah SAW, dan berpegang kepada Al-Qur'an. Menurut dia, perbedaan tata cara ibadah maupun mazhab tidak semestinya menjadi alasan munculnya permusuhan.
"Allah itu satu. Kiblat itu satu. Rasulullah itu satu. Al-Qur'an itu satu. Salat itu satu. Musuh pun satu. Musuh Islam adalah musuh seluruh umat Islam," ujarnya.
Boroujerdi juga menyampaikan pandangannya bahwa Iran memberikan dukungan kepada Palestina bukan karena kesamaan mazhab, melainkan karena persoalan kemanusiaan dan penolakan terhadap pendudukan. Ia menilai narasi yang membingkai konflik Timur Tengah sebagai pertentangan Sunni dan Syiah merupakan bagian dari strategi politik untuk memecah belah dunia Islam.
Menurut dia, perbedaan mazhab merupakan ranah keilmuan yang menjadi ruang dialog para ulama, bukan isu yang semestinya dibawa ke ranah politik. "Dalam politik, musuhnya satu, yaitu rezim Zionis Israel," katanya.
(Red)


