• Jelajahi

    Copyright ©
    Sinyal Bekasi

    Iklan

    Pimpinan Ponpes di Pekalongan Ditangkap, Lecehkan 6 Santriwati, Ada Korban Diduga Hamil dan Melahirkan

    29/05/2026, 14:48 WIB Last Updated 2026-05-29T07:48:05Z

    PENULIS : ADE DWI HIDAYAT

    ‎AHF saat digelandang di Polres Pekalongan Kota.

    WARTAKINIAN
    - Seorang pimpinan pondok pesantren berinisial AHF di Kecamatan Buaran, Kota Pekalongan, ditangkap aparat kepolisian atas dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati di tempatnya mengajar.

    ‎Pelaku diduga menggunakan modus meminta santriwati memijat tubuhnya, lalu melakukan tindakan asusila. Sebagian korban juga mengaku mengalami perabaan pada bagian tubuh mereka.

    ‎Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi menyatakan jumlah korban berpotensi terus bertambah.

    ‎Polisi kini tengah berupaya mendekati korban lain agar berani melapor, termasuk seorang perempuan yang diduga pernah hamil hingga melahirkan akibat kasus serupa namun hingga kini belum bersedia berbicara.

    ‎"Tidak menutup kemungkinan jumlah korban bertambah. Ada informasi salah satu korban sampai hamil dan melahirkan, tetapi yang bersangkutan masih belum bersedia bicara. Posisinya di Kabupaten Pekalongan," katanya, dilansir dari Metropekalongan.com (JawaPos Group), Rabu (27/5).

    ‎Guna mempermudah pelaporan, kepolisian membuka posko pengaduan sekaligus menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi para korban.

    ‎Area pondok pesantren telah dipasangi garis polisi dan seluruh kegiatan belajar mengajar di lokasi dihentikan sementara demi kepentingan penyidikan.

    ‎Riki menegaskan, penangkapan AHF bukan dipicu oleh laporan santriwati berinisial F yang viral mengaku hamil dan melahirkan tanpa hubungan badan. Penangkapan dilakukan berdasarkan laporan dari enam santriwati lain yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual AHF semasa mondok di pesantren tersebut.

    ‎Pengungkapan kasus ini sempat terkendala karena informasi yang beredar di masyarakat sangat tertutup. Riki kemudian memerintahkan jajaran Satreskrim untuk melakukan pendekatan personal kepada keluarga-keluarga korban.

    ‎"Pada mulanya informasi tentang kasus ini sangat tertutup. Kami minta jajaran reskrim melakukan pendekatan person to person kepada para keluarga korban. Alhamdulillah, akhirnya ada sejumlah korban yang bersedia melapor," tukasnya.

    ‎(Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    PEMERINTAH

    +
    /*]]>*/